Bahaya Hati yang Jauh dari Allah
Maasyiral Muslimin Rahimakumullah,
Mari sama-sama kita pahami bahwa takwa itu terbagi
menjadi dua bagian. Yang pertama adalah takwa lahir, yaitu dengan melaksanakan
perintah-perintah Allah Ta’ala yang tampak secara lahiriah, seperti shalat,
puasa, zakat, sedekah, dan berbagai bentuk amalan lainnya. Termasuk juga
menjauhi larangan-larangan Allah Ta’ala, seperti meninggalkan zina, menjauhi
minuman beralkohol, meninggalkan judi, korupsi, serta berbagai perbuatan
tercela lainnya.
Adapun yang kedua adalah takwa batin. Takwa batin
ini adalah upaya menjaga kebersihan dan kesucian hati melalui amalan-amalan
hati. Takwa batin mencakup perkara-perkara yang diperintahkan oleh syariat,
seperti ikhlas, ridha, sabar, syukur, dan sifat-sifat terpuji lainnya. Dan ia juga
mencakup perkara-perkara yang dilarang oleh syariat, seperti berburuk sangka,
iri, dengki, dendam, dan sifat-sifat tercela lainnya.
Maasyiral Muslimin Rahimakumullah,
Dalam praktiknya kita masih sering melihat diri kita
hanya mementingkan ibadah-ibadah atau amalan-amalan yang bersifat ceremony dan
amalan lahiriah saja, tanpa mempertimbangkan sisi-sisi amalan hati (batin) yang
sejatinya tidak kalah penting. Sebagaimana baginda Nabi Muhammad menjelaskan
hal ini dalam sabdanya:
إِنَّ اللَّهَ لَا
يَنْظُرُ إِلَى
صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ
وَلَكِـنْ يَنْظُرُ
إِلَى قُــــلُوبِكُمْ
وَأَعْمَــالِكُمْ
Artinya: “Sungguh Allah tidak melihat rupa dan harta
kalian, melainkan melihat hati dan amal kalian,” (HR Muslim)
Hadits ini menunjukkan bahwa penilaian Allah
tertuju pada hal-hal yang lebih dalam dari sekadar yang tampak dari tubuh dan
yang terkesan mewah di mata kebanyakan manusia. Bukan kesempurnaan fisik maupun
kekayaan harta benda, tetapi pada kualitas hati dan mutu perbuatan hamba-Nya
Diperkuat riwayat tambahan oleh Imam Thabrani
beliau menambahkan riwayat lain:
فَمَنْ كَانَ لَهُ قَلْبٌ صَالِحٌ تَحَنَّنَ اللَّهُ
عَزَّ وَجَلَّ عَلَيْهِ، وَإِنَّمَا أَنْتُمْ بَنِي آدَمَ أَكْرَمُكُمْ عِنْدَ اللَّهِ
أَتْقَاكُمْ
Artinya, “Siapa saja yang memiliki hati yang
bersih, maka Allah menaruh simpati padanya. Kalian adalah anak cucu Adam.
Tetaplah yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah yang paling
takwa,” (HR. Ath-Thabrani)
Dari penjelasan hadits tersebut bisa kita
simpulkan bahwa hati merupakan satu elemen penting bagi kehidupan orang mukmin.
Di hati inilah tempat Allah Ta’ala melihat baik dan buruknya kita, di hati ini
juga menjadi tempat komando bagi anggota tubuh yang lainnya. Maka penting bagi
kita untuk menjaga kebersihan dan kesucian hati, agar hati kita dipenuhi dengan
ketakwaan. Jangan sampai hati kita kering, kotor dan dipenuhi dengan noda-noda
kemaksiatan, sehingga hati kita merasa jauh dari Allah Ta’ala dan tidak dapat
merasakan kehadiran-Nya.
Maasyiral Muslimin Rahimakumullah
Hati yang mati, kering, gersang merupakan masalah
yang serius. Hal ini dapat menyebabkan kehinaan yang nyata. Di antaranya,
Pertama adalah hilangnya rasa malu. Sebab utama
hilangnya perasaan malu dari hati adalah hilangnya perasaan selalu diawasi oleh
Allah Ta’ala. Yang
kedua hilangnya perasaan tenang dan damai dari hati.
Sebab hati yang tidak ada Allah di dalamnya tidak akan merasa tenang. Sebab
Allah lah yang maha memberi ketenangan dan kedamaian dalam hati. Hal ini akan
sangat berdampak pada kehidupan seseorang, dia akan mencari ketenangan dan
kedamaian di tempat yang salah dengan melakukan hal-hal yang melanggar norma
dan syariat. Yang
ketiga tidak terkabulkannya doa. Sebab dalam salah
satu sabda Baginda Nabi Muhammad menyatakan:
وَاعْلَمُوْا أَنَّ
اللهَ لَا
يَسْتَجِيْبُ دُعَاءً
مِنْ قَلْبٍ
غَافِلٍ
Artinya: “Ketahuilah oleh kalian semua, sesungguhnya
Allah tidak akan mengabulkan doa dari orang yang hatinya lalai.” (HR
At-Tirmidzi)
Yang keempat adalah hati menjadi sulit menerima kebenaran.
Hati yang mati maka akan sulit menerima nasihat kebenaran, hal ini disebabkan
karena sejatinya hati adalah tempat cahaya ilahi bersemayam, apabila cahaya
ilahi tersebut padam maka orang yang hatinya keras dan lalai dari Allah Ta’ala
tidak akan mampu membedakan kebenaran dan kebatilan.
Maasyiral Muslimin Rahimakumullah,
Itulah empat bahaya hati yang dapat kami rangkum
semoga bisa memberi kita rambu-rambu terhadap gelapnya hati hingga kita bisa
menjadikan hati kita hidup dan terisi penuh cahaya keimanan dan ketakwaan, mari
kita renungkan kembali sabda Baginda Nabi Muhammad SAW:
أَلاَ وَإِنَّ فِى الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ ،
وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ . أَلاَ وَهِىَ الْقَلْبُ
Artinya: “Ingatlah bahwa di dalam jasad itu ada
segumpal daging. Jika ia baik, maka baik pula seluruh jasad. Jika ia rusak,
maka rusak pula seluruh jasad. Ketahuilah bahwa ia adalah hati (jantung).”(HR
Bukhari)
Demikian khutbah Jumat pada siang hari ini, semoga
apa yang disampaikan benar-benar membawa manfaat bagi kita semua. Aamiin ya
rabbal alamin.
Komentar
Posting Komentar