Hawanafsu

 

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,

Salah satu cara terpenting untuk menjaga iman dan ketakwaan di zaman seperti saat ini adalah dengan menjaga diri dari segala perbuatan dosa dan kemaksiatan, yang disebabkan oleh ajakan nafsu sesaat, karena iman yang tidak dijaga akan mudah pudar, dan takwa yang tidak dipelihara akan mudah tergelincir. Orang-orang yang mampu menjaga diri dari melakukan perbuatan terlarang akan mendapatkan jaminan surga kelak di akhirat. Berkaitan dengan hal ini, Allah swt berfirman dalam Al-Qur’an:

 

 وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَى. فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَى

 Artinya, “Adapun orang-orang yang takut pada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari (keinginan) hawa nafsunya, sesungguhnya surgalah tempat tinggal(-nya).” (QS An-Nazi’at: 40-41).

 

 

Menurut Syekh Syihabuddin al-Alusi, ayat ini memiliki spirit perihal bagaimana seorang mukmin seharusnya menjaga diri dari maksiat. Ayat ini menggambarkan seseorang yang hampir terjerumus dalam perbuatan dosa, namun kemudian ia ingat a saat dirinya kelak akan berdiri di hadapan Allah untuk dihisab. Karena takut akan pertanggungjawaban tersebut, ia pun mengurungkan niatnya untuk melakukan maksiat, sebagaimana dijelaskan dalam kitab Tafsir al-Alusi, jilid XV, halaman 238:

 

 أَنَّهُ الرَّجُلُ يَهُمُّ بِالْمَعْصِيَةِ، فَيَذْكُرُ مَقَامَهُ لِلْحِسَابِ بَيْنَ يَدَيْ رَبِّهِ سُبْحَانَهُ، فَيَخَافُ فَيَتْرُكُهَا

 Artinya, “Sesungguhnya (makna ayat ini adalah) seseorang yang bermaksud melakukan maksiat, kemudian ia teringat akan kedudukannya kelak ketika dihisab di hadapan Tuhannya Yang Maha Suci, maka ia pun takut, lalu meninggalkan maksiat tersebut.”

 

 

Dengan demikian, orang-orang yang mampu mengendalikan diri dari hawa nafsu dan takut akan kebesaran Allah, mereka inilah yang dijanjikan surga sebagai tempat tinggalnya. Oleh karena itu, marilah kita senantiasa berusaha untuk meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah, dengan cara terus berupaya untuk menjaga diri dari perbuatan maksiat.

 

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,

Salah satu contoh teladan yang patut kita ikuti dalam hal ini adalah Imam Muhammad bin Idris asy-Syafi’i. Beliau tidak hanya dikenal sebagai salah satu ulama yang corak fiqihnya mewarnai peradaban Islam, tetapi juga ulama yang sangat menjaga diri dari perbuatan maksiat. Ada banyak sekali kisah perihal bagaimana beliau menundukkan pandangannya ketika melihat sebuah maksiat. Salah satu kisah yang sangat masyhur tentang hal ini adalah bahwa ia yang dikenal sebagai ulama yang sangat kuat hafalannya dan sangat cerdas otaknya, suatu saat merasa bahwa kekuatan hafalan itu mulai melemah. Ia yang biasa menghafal banyak hafalan tiba-tiba tumpul dan sulit menghafal. Maka asy-Syafi’i mendatangi gurunya yang bernama Syekh Waki’ untuk mengadukan nasibnya itu. Ketika keduanya bertemu, akhirnya sang guru menjelaskan bahwa lemahnya hafalan itu disebabkan maksiat. Namun ia tetap heran karena dirinya tidak pernah melakukan maksiat. Akan tetapi setelah diingat-ingat, ternyata pernah suatu saat pandangannya tidak sengaja melihat kaki wanita yang tidak halal baginya, dan itulah alasan yang menjadikan hafalannya menjadi lemah. Setelah kejadian ini, Imam asy-Syafi’i menulis sebuah syair, yang kemudian banyak diceritakan oleh para ulama, salah satunya adalah Syekh Abdul Hamid Kisyk dalam kitab Ashabul Qulub al-Mustanirah, halaman 45, yaitu:

 

Aku mengeluh kepada Syekh Waki’ tentang buruknya hafalanku, maka dia menunjukiku untuk meninggalkan maksiat. Dan dia memberitahuku bahwa ilmu adalah cahaya, sedangkan cahaya Allah tidak akan diberikan kepada orang yang bermaksiat.”

 

 

 

 

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah

Kisah ini memberikan pelajaran penting kepada kita semua, bahwa sekecil apa pun bentuk maksiat dapat membawa pengaruh besar terhadap hati dan kehidupan seorang mukmin. Imam Syafi’i merasakan langsung bagaimana pandangan yang tidak disengaja terhadap sesuatu yang diharamkan mampu mengurangi kekuatan hafalannya. Semoga Allah swt senantiasa menjaga pandangan kita dari hal-hal yang haram, menjaga hati kita agar selalu bersih dari maksiat, dan menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang senantiasa takut kepada-Nya, baik dalam kesendirian maupun di tengah keramaian.

Demikian adanya khutbah Jumat, perihal meneladani semangat Imam asy-Syafi’i dalam menjaga diri dari maksiat. Semoga menjadi khutbah yang membawa berkah dan manfaat bagi kita semua. Amin ya rabbal alamin.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jiw dan Ruh

Amalan Setelah Ramadan

Jadikan Diri Pribadi Taat