Rajin Ibadah Namun Masih Bermaksiat

 

Maasyiral muslimin rahimakumullah,

Bukankah semakin rajin ibadah seharusnya semakin menjauh dari maksiat? Tentu kita sering mendengar istilah-istilah seperti “rajin shalat kok marah-marah, rajin ngaji kok zhalim, rajin ibadah kok maksiat

Allah SWT berfirman dalam satu Hadits Qudsi ”Sesungguhnya Aku (Allah) hanya akan menerima shalat dari hamba yang dengan shalatnya itu dia merendahkan diri di hadapan-Ku. Dia tidak sombong kepada  makhluk-Ku yang lain, tidak mengulangi maksiat kepada-Ku, menyayangi orang-orang miskin dan orang-orang yang menderita. Aku akan muliakan shalat hamba itu dengan  kebesaran-Ku. Aku akan menyuruh malaikat untuk menjaganya. Dan kalau dia berdoa kepada-Ku, Aku akan memperkenankannya. Perumpamaan dia dengan  makhluk-Ku yang lain adalah seperti perumpamaan surga Firdaus dengan surga- surga yang lain.”

Alla SWT berfirman dalam Al quran surah  Al-Baqarah Ayat 42

وَلَا تَلۡبِسُوا الۡحَـقَّ بِالۡبَاطِلِ وَتَكۡتُمُوا الۡحَـقَّ وَاَنۡتُمۡ تَعۡلَمُوۡنَ

Dan janganlah kamu campuradukkan kebenaran dengan kebatilan dan (janganlah) kamu sembunyikan kebenaran, sedangkan kamu mengetahuinya.

 

Kita mungkin pernah melihat, ada orang salat tapi masih berbuat perkara tidak penting, berbicara tidak penting bahkan menghabiskan waktu tidak penting. Diantara perbuatan taat dan maksiat itu adalah “lagha” atau hal yang tidak penting. berpotensi mendekatkan pada maksiat dan melupakan ibadah

 

Maasyiral muslimin rahimakumullah,

Kenapa rajin ibadah tapi masih bermaksiat?  ketika iman kita standar maka godaan-godaan di atas standar tidak bisa kita cegah, dan maksiat akan muncul. Ketika iman meningkat, maka potensi-potensi maksiat di atas standar yang tadinya tidak bisa dicegah, kali ini bisa ditangani. Namun “lagha” atau hal-hal yang tidak penting masih bisa mempengaruhi iman kita di level ini. Maka, “lagha” inilah yang membuka jalan untuk bermaksiat. Ketika kita sibuk melakukan hal-hal yang tidak penting atau kurang bermanfaat, potensi-potensi untuk maksiat dapat mempengaruhi kita.

Dalam Islam, gambaran keimanan itu ditunjukkan dengan perbuatan amal shaleh. Tingkatan iman terbagi menjadi tiga. Pertama, iman dasar. Makna “aamana” yaitu iman yang standar. Tanda standar iman ditunjukkan dengan amalan-amalan atau ibadah yang dikerjakan hanya yang sifatnya menggugurkan kewajiban saja. Standarnya iman terlihat ketika mengerjakan salat. Mereka hanya mengerjakan salat wajib saja, belum tergerak mengerjakan salat-salat sunnah. Timbal balik dari ibadah yang mereka dapatkan juga standar.

 

Maasyiral muslimin rahimaqumullah,

Demikianlah khutbah jumat hari ini semoga kita menjadi hamba-hamba Allah yang baik sejalan dalam kehidupan kita antara muamalah dan muasyarah, hubungan kita kepada Allah dan hubungan kita kepada sesama manusia. Amin ya robbal alamin.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jiw dan Ruh

Amalan Setelah Ramadan

Bulan Syakban