Giat Beramal Disaat Ramadhan
Kaum muslimin muslimat Rahimakumullah,
Jika diumpamakan, bulan Ramadhan laksana hamparan ladang
yang ditumbuhi aneka pohon berbuah lebat. Kita bisa memanennya sesuka dan
sebanyak mungkin. Semakin rajin kita memetiknya maka semakin banyak pula buah-buahan
yang diperoleh. Saat Ramadhan, buah-buah itu adalah limpahan pahala yang bisa
diraih dengan amal ibadah. Semakin giat ibadah yang dilakukan seseorang maka
semakin banyak pula pahala yang ia peroleh.
Namun demikian, ibadah adalah persoalan iman. Suatu saat ia
bisa naik dan di saat yang lain akan melandai. Hal demikian juga kerap dijumpai
saat Ramadhan. Memasuki awal bulan semangat ibadah masih aman. Masjid dan
mushala masih ramai dipenuhi jamaah shalat tarawih, suara tadarus Al-Qur'an
masih lantang terdengar dimana-mana, dan sejumlah ritual keagamaan lainnya
masih riuh-ramai, terutama yang khas Ramadhan.
Sayangnya begitu memasuki separuh bulan terakhir, semangat
ibadah tidak lagi sebesar di fase awal. Jamaah tarawih mulai berguguran satu
persatu, semangat tadarus Al-Qur'an mulai menurun, dan sebagainya.
Lantas, apa saja yang bisa kita lakukan agar semangat ibadah
tetap terawat selama Ramadhan?
Yang
pertama, jangan makan terlalu kenyang.
Meskipun bulan Ramadhan mewajibkan umat Muslim untuk berpuasa
sejak waktu imsak sampai maghrib tiba, namun momen berbuka kadang menjadi
semacam kesempatan untuk balas dendam. Segala macam hidangan disajikan di meja
makan. Akibatnya perut terlalu kenyang. Padahal, Allah swt menegaskan bahwa
berlebihan dalam konsumsi makanan tidak baik. Dalam Al-Qur'an disebutkan,
يٰبَنِيْٓ اٰدَمَ خُذُوْا زِيْنَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ
وَّكُلُوْا وَاشْرَبُوْا وَلَا تُسْرِفُوْاۚ اِنَّه لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِيْنَ
Artinya, "Wahai anak cucu Adam, pakailah pakaianmu yang
indah pada setiap (memasuki) masjid dan makan serta minumlah, tetapi janganlah
berlebihan. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang berlebihan."
(QS Al-A'raf: 31).
Ayat ini secara tegas melarang kita untuk bertindak
berlebihan. Sesuatu yang baik akan mengundang petaka jika dilakukan melampaui
batas. Dalam konteks Ramadhan, makan terlalu berlebihan bisa menyebabkan kita
tertinggal banyak kesempatan ibadah yang balasan pahalanya berkali-kali lipat
dibanding pada bulan-bulan lainnya. Terkait batas konsumsi makanan yang ideal,
Rasulullah saw juga pernah bersabda,
مَا مَلَأَ آدَمِيٌّ وِعَاءً شَرًّا مِنْ بَطْنٍ، بِحَسْبِ
ابْنِ آدَمَ أُكُلَاتٌ يُقِمْنَ صُلْبَهُ، فَإِنْ كَانَ لَا مَحَالَةَ فَثُلُثٌ لِطَعَامِهِ
وَثُلُثٌ لِشَرَابِهِ وَثُلُثٌ لِنَفَسِهِ
Artinya, "Tiada tempat yang manusia isi yang lebih
buruk daripada perut. Cukuplah bagi anak Adam memakan beberapa suapan untuk
menegakkan punggungnya. Namun, jika ia harus (melebihinya), hendaknya sepertiga
perutnya (diisi) untuk makanan, sepertiga untuk minuman, dan sepertiga lagi
untuk bernapas." (HR At-Tirmidzi).
Yang kedua,
hindari perbuatan maksiat.
Kaum muslimin muslimat Rahimakumullah,
Dosa yang diperbuat oleh seorang Muslim akan mempengaruhi
kualitas spiritualnya, yaitu dengan menyebabkan pelakunya malas beribadah.
Tentu kita tidak berharap kesempatan memperbanyak ibadah selama Ramadhan
terlewat begitu saja sebab pengaruh dosa yang kita perbuat. Berkaitan dengan
hal ini, Ibnu Abbas pernah berkata,
إِنَّ لِلْحَسَنَةِ ضِيَاءً فِي الْوَجْهِ، وَنُوْرًا فِي
الْقَلْبِ، وَسَعَةً فِي الرِّزْقِ، وَقُوَّةً فِي الْبَدَنِ، وَمَحَبَّةً فِي قُلُوبِ
الْخَلْقِ، وَإِنَّ لِلسَّيِّئَةِ سَوَادًا فِي الْوَجْهِ، وَظُلْمَةً فِي الْقَبْرِ
وَالْقَلْبِ، وَوَهْنًا فِي الْبَدَنِ، وَنَقْصًا فِي الرِّزْقِ، وَبُغْضَةً فِي قُلُوبِ
الْخَلْقِ
Artinya, "Sesungguhnya pada kebaikan terdapat sinar
pada wajah, cahaya dalam hati, kelapangan dalam rezeki, kekuatan pada badan,
dan kecintaan pada hati makhluk. Sesungguhnya pada kejelekan terdapat kegelapan
pada wajah, gulita pada alam kubur dan hati, kelemahan pada badan (untuk
beribadah), kekurangan dalam rezeki, dan kebencian pada hati makhluk."
(Abdul Majid Kisyk, Fi Riḥābit Tafsīr, juz XIV, halaman 3316).
Ketiga,
tidak berlebihan dalam beribadah.
Segala hal yang berlebihan tidak baik, sekalipun dalam hal
beribadah. Dalam melakukan amalan-amalan sunnah selama Ramadhan, kita perlu
melakukannya secara proporsional dengan mengukur sejauhmana kemampuan yang kita
miliki. Jangan sampai karena terlalu banyak porsi ibadah yang dilakukan, akhirnya
memberatkan diri sendiri sehingga merasa 'kapok' untuk meneruskannya.
Rasulullah saw pernah bersabda,
خُذُوا مِنْ الْعَمَلِ مَا تُطِيقُونَ فَإِنَّ اللَّهَ لَا
يَمَلُّ حَتَّى تَمَلُّوْا وَأَحَبُّ الصَّلَاةِ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ مَا دُووِمَ عَلَيْهِ وَإِنْ قَلَّتْ وَكَانَ إِذَا صَلَّى صَلَاةً دَاوَمَ
عَلَيْهَا
Artinya, "Lakukanlah amal-amal yang kalian sanggup
melaksanakannya, karena Allah tidak akan berpaling (dalam memberikan pahala)
sampai kalian yang lebih dahulu berpaling (dari mengerjakan amal)." Dan
shalat yang paling Nabi saw cintai adalah shalat yang dijaga kesinambungannya
sekalipun sedikit. Dan Beliau bila sudah biasa melaksanakan shalat (sunnah)
akan melakukannya dengan konsisten." (HR Al-Bukhari).
Ma'asyiral muslimin wal muslimat rahimakumullah
Untuk itu, mari warnai Ramadhan dengan spirit ibadah yang
terawat sampai bulan suci berpamit. Semakin banyak ibadah yang kita lakukan
memang semakin baik, tapi akan jauh lebih baik jika kita mampu menjalaninya
dengan konsisten dan penuh penghayatan.
Komentar
Posting Komentar