6 Renungan tentang Pergeseran Nilai dalam Kehidupan Modern
Ma'asyiral muslimin jamaah Jumat rahimakumullah
Adalah sebuah keniscayaan bagi
kita untuk senantiasa mengungkapkan rasa syukur kepada Allah swt atas anugerah
nikmat yang telah diberikan dalam kehidupan kita. Kita, umat Islam, harus
mewujudkan rasa syukur ini di antaranya dengan terus memperkuat ketakwaan
kepada Allah swt dengan meneguhkan komitmen untuk menjalankan perintah Allah
dan menjauhi larangan-Nya. Takwa seperti rambu-rambu jalan raya yang
mengarahkan kita untuk berada pada jalur benar sehingga sampai tujuan dengan
selamat.
Terlebih di era perkembangan zaman yang modern
dan sangat cepat saat ini, berbagai hambatan dan gangguan sering muncul dalam
kehidupan dan mampu menimbulkan hal-hal yang tidak kita inginkan. Dengan takwa
sebagai bekal perjalanan, maka Insyaallah kita akan senantiasa dalam lindungan
Allah swt.
Dalam QS Al-Baqarah ayat 197 disebutkan:
وَتَزَوَّدُوا۟ فَإِنَّ خَيْرَ ٱلزَّادِ ٱلتَّقْوَىٰ ۚ وَٱتَّقُونِ يَٰٓأُو۟لِى ٱلْأَلْبَٰبِ
Artinya: “Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan
bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal.”
Ma'asyiral muslimin jamaah Jumat rahimakumullah
Perubahan zaman yang cepat saat ini di satu sisi menjadikan kehidupan manusia
semakin mudah, imbas dari perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Namun di
sisi lain, dampak negatif sudah mulai dirasakan dan perlu kita renungi serta
dicarikan solusi agar tidak menjadikannya kebiasaan buruk dalam kehidupan di
tengah-tengah masyarakat. Berikut khatib paparkan 6 perubahan nilai di
tengah-tengah masyarakat modern yang patut kita renungi bersama.
Pertama, gelar dan ijazah semakin tinggi namun tak
menggambarkan kualitas diri. Mulai terlihat orang-orang yang mementingkan gelar
dan ijazah dari ilmu yang bermanfaat dan keberkahan. Dalam tataran praktiknya,
ilmu yang dipelajari tidak berbanding lurus dengan kompetensi, kualitas, dan
prilaku hidup sehari-hari. Padahal sejatinya, sekolah, kuliah, dan berbagai
cara mencari ilmu adalah pekerjaan yang luhur jika orientasinya bukan untuk
kepentingan duniawi semata.
Kedua, alat kesehatan semakin canggih tapi penyakit
semakin bermacam-macam. Kesehatan serta kekuatan tubuh manusia saat ini semakin
rendah. Saat ini dengan mudah kita jumpai alat-alat canggih dalam bidang
kesehatan namun kekuatan tubuh manusia semakin rentan terhadap penyakit. Jika
orang tua kita dulu masih bisa ke kebun dan ke sawah di usia 80 tahunan, saat
ini jarang ditemukan orang tua pada umuran tersebut melakukan aktivitas berat.
Bisa jadi ini akibat pola pikir dan berbagai jenis makanan modern yang
dikonsumsi saat ini.
Ketiga, sering pergi kemana-mana tapi tak kenal
tetangga. Fakta sosial ini bisa kita temukan di masyarakat, khususnya di
kawasan perkotaan. Bagaimana sikap individualis masyarakat modern saat ini muncul
ditandai dengan menurunnya kepekaan sosial pada lingkungannya. Budaya gotong
royong seperti kerja bakti, berkumpul dan bersosialisasi dengan lingkungan
sudah mulai berkurang. Padahal jika terjadi sesuatu hal, maka tetanggalah yang
menjadi orang terdekat yang dimintai bantuan. Semua patut menjadi renungan kita
bersama.
Ma'asyiral muslimin jamaah Jumat rahimakumullah
Keempat, rata-rata penghasilan semakin tinggi tapi
ketentraman hati dan jiwa semakin berkurang. Seiring perkembangan zaman,
berbagai macam peluang pekerjaan bermunculan. Kondisi ini menjadikan masyarakat
mudah memilih pekerjaan sesuai dengan keinginannya dan kecenderungan
penghasilan masyarakat saat ini lebih tinggi dari sebelumnya. Namun jika tidak
dilandasi dengan kepedulian sosial, rasa syukur dan senantiasa ingat kepada
Allah, kegersangan hati akan muncul. Kondisi ini akan berdampak negatif bagi
diri sendiri, keluarga, dan masyarakat.
Allah berfirman dalam Al-Qur’an Ar-Ra’du ayat 28:
الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا
وَتَطْمَىِٕنُّ قُلُوْبُهُمْ
بِذِكْرِ اللّٰهِ
ۗ اَلَا
بِذِكْرِ اللّٰهِ
تَطْمَىِٕنُّ الْقُلُوْبُ
ۗ
Artinya: “(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati
mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah.
Ingatlah, bahwa hanya dengan mengingat Allah hati
akan selalu tenteram.”
Kelima, semakin banyak teman di dunia maya tapi
tidak punya sahabat di dunia nyata. Alangkah mudahnya saat ini berteman di
media sosial. Cukup dengan ‘klik’ saja kita bisa mendapatkan banyak teman.
Namun keasyikan bermedia sosial dengan teman banyak ternyata berpengaruh pada
kurangnya bersosialisasi di dunia nyata sehingga masyarakat kini tidak memiliki
sahabat banyak di dunia nyata. Ada istilah “Yang jauh didekatkan dan yang dekat
dijauhkan” akibat asik bermedia sosial.
Kemudahan komunikasi juga menjadikan kita dengan
mudah mengatur waktu untuk bertemu dengan orang lain. Namun saat bertemu, tidak
jarang kita malah sibuk bermain HP sendiri dan tidak mempedulikan orang di
sekitar kita. Dampak lain dari perkembangan di era saat ini adalah teknologi
informasi semakin canggih namun fitnah dan hoaks juga semakin merajalela.
Sehingga kita perlu hati-hati dan waspada saat menerima berita atau informasi
apapun di media sosial. Kita harus melakukan tabayun, klarifikisasi, atau
dengan seksama mengecek kebenaran dari informasi yang diterima.
Allah swt
telah mengingatkan dalam Al-Qur’an surat Al-Hujurat ayat 6:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِنْ
جَاۤءَكُمْ فَاسِقٌۢ بِنَبَاٍ فَتَبَيَّنُوْٓا اَنْ تُصِيْبُوْا قَوْمًاۢ بِجَهَالَةٍ
فَتُصْبِحُوْا عَلٰى مَا فَعَلْتُمْ نٰدِمِيْنَ
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, jika
seorang fasik datang kepadamu membawa berita penting, maka telitilah
kebenarannya agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena ketidaktahuan(-mu)
yang berakibat kamu menyesali perbuatanmu itu.”
Keenam, ilmu semakin tersebar tapi adab dan akhlak
semakin pudar. Ada pergeseran nilai saat ini di mana ilmu tidak lagi meresap di
dalam hati namun hanya sebatas diingat dalam otak.
Sehingga dengan mudah kita bisa mendapatkan ilmu
namun akhlak dan adab semakin pudar. Kejadian generasi muda yang kurang
akhlaknya melakukan berbagai macam jenis tindakan tidak bermoral menjadi contoh
rapuhnya pendidikan moral di era saat ini.
Fakta juga bisa ditemukan bagaimana saat ini kita
bisa belajar ilmu apapun dengan mudah namun penghormatan kepada guru semakin
berkurang. Guru sebagai penyambung ilmu dan nilai-nilai moral kurang dihargai
dan sering menjadi kambing hitam dalam masalah pendidikan. Padahal guru menurut
Rasulullah adalah posisi yang penuh dengan kebaikan dan Rasulullah juga
merupakan seorang guru.
كُلٌّ عَلَى
خَيْرٍ هَؤُلَاءِ يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ وَيَدْعُونَ اللَّهَ فَإِنْ شَاءَ أَعْطَاهُمْ
وَإِنْ شَاءَ مَنَعَهُمْ وَهَؤُلَاءِ يَتَعَلَّمُونَ وَإِنَّمَا بُعِثْتُ مُعَلِّمًا
فَجَلَسَ مَعَهُمْ
Artinya:
“Mereka semua berada dalam kebaikan. Kelompok pertama membaca Al-Qur'an dan
berdoa kepada Allah, jika Allah berkehendak Dia akan memberi (apa yang diminta)
mereka. Sementara kelompok yang kedua belajar mengajar, dan sesungguhnya aku
diutus untuk menjadi guru.” (HR Ibnu Majah).
Ma'asyiral muslimin jamaah Jumat rahimakumullah
Komentar
Posting Komentar